PROFIL SAHABAT
MENUJU INTELEKTUAL SOSIALIS
Ditulis Oleh : Salahudin
MENUJU INTELEKTUAL SOSIALIS
Ditulis Oleh : Salahudin
Sebuah kata yang pernah diucapkan oleh aktivis pendidikan bagian timur Indonesia adalah kata sederhana tapi bermakna untuk jaman sekarang, yaitu “kekayaan yang paling berharga adalah kekayaan intelektual”. Aktivis itu bernama Ihwan. Nama ini sangat sederhana dan singkat. Meskipun demikian, kesederhanaan nama ternyata bukan mencerminkan kesedrhanaan pola pikir. Pola pikir yang ia miliki jauh kedepan dan penuh obsesi untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan hidup orang banyak. Ia lahir di pelosok Desa Sambi Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu Nusa Tanggara Barat. Semenjak menamatkan pendidikan SMA, ia merantau di negeri yang haus akan kekuasaan pada saat itu, yaitu Timur Leste. Pada saat itu, Timur Leste sedang terkecamuk oleh konflik separatis. Di tengah- tengah konflik itu, Ihwan meyakinkan dirinya bahwa hidup manusia penuh dengan kehausan dalam meraih kekuasaan. Dengan itu, ia membenarkan teori Tomas Hobbes yang mengatakan bahwa manusia bagaikan sri gala, yaitu menindas manusia yang lainnya untuk kekuasaan. Selain itu, ia juga membenarkan teori Mechevelli, yang mengatakan manusia rela melakukan segala cara untuk merai kekuasaan termasuk membunuh manusia.
Di Timur Leste, ia tinggal bersama militer angkatan darat Republik Indonesia. Meskipun bukan anggota militer, ia pandai sekali merakit dan merawat senjata-senjata yang ada di markas. Sesekali, ia mencoba menembak boneka yang memang dipasang untuk latihan tembak jitu. Meskipun tingkah seperti itu, ia tidak pernah ditegur dan dilarang oleh tentara- tentara yang ada di markas. Ia berkesimpulan, bahwa memegang senjata api adalah hal yang biasa di negara hukum seperti Indonesia.
Pada malam hari pukul 19.00, terjadi peristiwa yang mengenaskan, yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh murid kepada seorang guru SMA. Waktu itu, ihwan menyaksikan secara langsung, ditempat kejadian, disana terlihat seorang pria yang menggeletak diatas lantai penuh dengan darah. Kasus itu diselesaikan melalui proses hukum. Pembunuh itu adalah 3 siswa sekolah SMA tempat guru (korban) mengajar. Dua orang dapat ditangkap oleh aparat kepolisian sedangkan satu orang tidak dapat ditangkap. Dua pembunuh yang ditangkap itu tidak pernah memberi tahu dimana posisi temannya itu, samapi- sampai kuping dan matanya di jongkel oleh polisi. Namun, tetap tidak mau dikasi tau.
Ihwan berkesimpulan, bahwa komitmen dan prinsip untuk menutupi keburukan begitu kuat terhadap anak- anak itu. Memang, komitmen dan prinsip adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang, tapi bukan pada hal yang buruk. Banyak orang (termasuk pejabat negara) berkomitmen dan berprinsip untuk hal yang buruk terutama dalam hal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Di daerah panas itu, ihwan terus mempelajari kehidupan masyarakat. Menurutnya, melestusnya konflik separatis Timer Leste atas Republik Indonesia, bukanlah alasan ketidak meratanya pembangunan atau ketidak adilan Republik Indonesia atas daerah Timur Leste. Dia mengatakan, konflik itu lebih disebabkan oleh adanya gerakan terselubung dari kalangan Eks. Kalangan eks itu dikatakan sebagai kekuatan di luar kedaulatan. Itu sedikit dari sekian banyak pengalam ihwa di merantau di daerah panas itu. Dengan titik kejenuhuannya, ia pun balik di daerah asalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar