Senin, 15 Februari 2010

PROFIL SAHABAT
MENUJU INTELEKTUAL SOSIALIS

Ditulis Oleh : Salahudin


Sebuah kata yang pernah diucapkan oleh aktivis pendidikan bagian timur Indonesia adalah kata sederhana tapi bermakna untuk jaman sekarang, yaitu “kekayaan yang paling berharga adalah kekayaan intelektual”. Aktivis itu bernama Ihwan. Nama ini sangat sederhana dan singkat. Meskipun demikian, kesederhanaan nama ternyata bukan mencerminkan kesedrhanaan pola pikir. Pola pikir yang ia miliki jauh kedepan dan penuh obsesi untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan hidup orang banyak.


Ia lahir di pelosok Desa Sambi Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu Nusa Tanggara Barat. Semenjak menamatkan pendidikan SMA, ia merantau di negeri yang haus akan kekuasaan pada saat itu, yaitu Timur Leste. Pada saat itu, Timur Leste sedang terkecamuk oleh konflik separatis. Di tengah- tengah konflik itu, Ihwan meyakinkan dirinya bahwa hidup manusia penuh dengan kehausan dalam meraih kekuasaan. Dengan itu, ia membenarkan teori Tomas Hobbes yang mengatakan bahwa manusia bagaikan sri gala, yaitu menindas manusia yang lainnya untuk kekuasaan. Selain itu, ia juga membenarkan teori Mechevelli, yang mengatakan manusia rela melakukan segala cara untuk merai kekuasaan termasuk membunuh manusia.


Di Timur Leste, ia tinggal bersama militer angkatan darat Republik Indonesia. Meskipun bukan anggota militer, ia pandai sekali merakit dan merawat senjata-senjata yang ada di markas. Sesekali, ia mencoba menembak boneka yang memang dipasang untuk latihan tembak jitu. Meskipun tingkah seperti itu, ia tidak pernah ditegur dan dilarang oleh tentara- tentara yang ada di markas. Ia berkesimpulan, bahwa memegang senjata api adalah hal yang biasa di negara hukum seperti Indonesia.


Pada malam hari pukul 19.00, terjadi peristiwa yang mengenaskan, yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh murid kepada seorang guru SMA. Waktu itu, ihwan menyaksikan secara langsung, ditempat kejadian, disana terlihat seorang pria yang menggeletak diatas lantai penuh dengan darah. Kasus itu diselesaikan melalui proses hukum. Pembunuh itu adalah 3 siswa sekolah SMA tempat guru (korban) mengajar. Dua orang dapat ditangkap oleh aparat kepolisian sedangkan satu orang tidak dapat ditangkap. Dua pembunuh yang ditangkap itu tidak pernah memberi tahu dimana posisi temannya itu, samapi- sampai kuping dan matanya di jongkel oleh polisi. Namun, tetap tidak mau dikasi tau.


Ihwan berkesimpulan, bahwa komitmen dan prinsip untuk menutupi keburukan begitu kuat terhadap anak- anak itu. Memang, komitmen dan prinsip adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang, tapi bukan pada hal yang buruk. Banyak orang (termasuk pejabat negara) berkomitmen dan berprinsip untuk hal yang buruk terutama dalam hal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).


Di daerah panas itu, ihwan terus mempelajari kehidupan masyarakat. Menurutnya, melestusnya konflik separatis Timer Leste atas Republik Indonesia, bukanlah alasan ketidak meratanya pembangunan atau ketidak adilan Republik Indonesia atas daerah Timur Leste. Dia mengatakan, konflik itu lebih disebabkan oleh adanya gerakan terselubung dari kalangan Eks. Kalangan eks itu dikatakan sebagai kekuatan di luar kedaulatan. Itu sedikit dari sekian banyak pengalam ihwa di merantau di daerah panas itu. Dengan titik kejenuhuannya, ia pun balik di daerah asalnya.

Selasa, 02 Februari 2010

PERSELINGKUHAN PENGUASA DENGAN PENGUSAHA


….tanpa keberanian luar biasa akan sulit bagi indonesia untuk mengucapkan sayonara perbuatan hitam yang bernama koruspi itu”. (Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)


Ungkapan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah diatas adalah bentuk dari sambutan positif terbitnya buku membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century karangan George Junus Aditjondro. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Galangpress ini berujung pada kontroversi yang memanas antara pengarang dengan pihak- pihak yang merasa “dilecehkan” oleh buku tersebut. Aditjondro berusaha menguraikan dengan rinci dan detail bagaimana perselingkuhan penguasa dengan berbagai pengusaha dan lembaga- lembaga sosial, yang menurut Aditjondro diprakarsai oleh keluarga cikeas (keluarga cikeas diartikan sebagai keluarga SBY dan orang – orang dekatnya). Banyak kalangan menganggap, kehadiran buku tersebut adalah fitnah intelektual dan dianggap tidak ilmiah (irasional). Yang jelas kondisi bangsa saat ini, tidak jauh dari apa yang diuraikan dalam buku membongkar Gurita Cikeas tersebut. Politik kolusifitas penguasa dengan para elit kepentingan masih mewarnai bangsa Indonesia saat ini.

Persoalan Bank Century, menjadi awal dari pembahasan Buku membongkar Gurita Cikeas dibalik skandal Bank Century. Dalam buku tersebut, diungkapkan bahwa kolepsnya Bank Century disebabkan oleh adanya kepentingan politik SBY untuk pemilu 2009. Diuraikan, bahwa dua deposan terbesar Bank Century dianggap sebagai penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu. Mereka adalah Siti Hartati Murdaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Buedi Sampoerna. Dengan adanya hubungan tersebut, Aditjondro memastikan, kebijakan SBY dalam menyalurkan modal sementara yang berjumlah Rp. 6.7 triliun untuk menyelamatkan bank sencury hanya semata motif balas budi bukan karena ingin menstabilkan ekonomi negara.

Dalam buku membongkar Gurita Cikeas, George Junus Aditjondro memetakan intervensi yayasan terhadap politik SBY dalam meraih kemenangan pemilu 2009. Yayasan yang dimaksud oleh Aditjondro diantaranya Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian. Ketiga yayasan tersebut dianggap sebagai kekuatan politik SBY yang berada dibelakang Partai Demokrat. Pengurus yayasan – yayasan tersebut diisi oleh orang- orang dekat SBY dan para pejabat strategis Negara. Sehingga, menurut Aditjondro, keberadaan yayasan tersebut hanyalah sebuah langkah dalam melakukan manipulasi politik untuk kepentingan pribadi, sebagai institusi dalam menggalang jariangan sosial untuk kekuatan politik SBY, sebagai lembaga pengumpul modal untuk memperlancar politik SBY, dan sebagai lembaga pengalihan anggapan publik dalam realisisasi anggaran Negara.


Selain pemetaan hubungan keluarga Cikeas dengan beberapa yayasan, Aditjondro juga menguraikan hubungan keluarga SBY dengan berbagai konglomerat Indonesia yang dinilai memiliki peran ganda, yakni sebagai jabatan publik dan sebagai pengusaha. Sehingga, antara kepentingan publik dan kepentingan privat cenderung dimanipulasi agar saling menutupi. Barang publik (anggaran negara) dijadikan sebagai penopang kepentingan privat. Dan selanjutnya, hasil dari modal privat dijadikan sebagai kekuatan politik dalam mencapai jabatan publik, nantinya akan mendukung lagi keberlangsungan kepentingan privat. Dalam konteks ini, George Junus Aditjondro memberi contoh keberadaan Hatta Rajasa sebagai menteri Perhubungan yang memberi tender (proyek) raksasa pada Hartatnto Edhie Wibowo Komisaris PT. Power Telekom (Powertel), yang punya ikatan bisnis dengan adik M. Hatta Rajasa, Achmad Hafisz Tohir.

Dalam buku kontroversial tersebut, George Junus Aditjondro mengungkapkan bagaimana perselingkuhan Keluarga cikeas dengan makelar kasus (markus). Dalam konteks ini diberi contoh, hubungan Ani Yudoyono (istri SBY) dengan Artalita Suryani (ayin) pemakelar kasus BLBI (sekarang disorot sebagai tahanan yang menempati hotel). Menurut George Junus Aditjondro, meskipun Artalita ditahan, namun dia telah meloloskan sahabatnya, Syamsul Mursalim dari jeratan hukum, yang dianggap oleh Aditjondro sebagai hasil dari hubungan dekat ibu Ani dengan ibu ayin.

Dengan sejumlah temuan- temuan tersebut, mengundang kalangan Pro SBY tidak tinggal diam untuk melakukan klarifikasi apa yang dituliskan Aditjondro. Bentuk perlawanan dengan mengadakan debat, yang berakhir dengan pertengkaran antara Aditjondro dengan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat. Tidak hanya itu, pihak pro SBY juga mengeluarkan buku sebagai tandingan dalam menangkal isi buku Aditjondro. Rupanya para elit penguasa kita, masih seperti bocah yang tidak suka dikritik, dan hanya membutuhkan sanjungan manis dari pihak elit politik penjilat dalam mencari jalan menuju kekuasaan atau jabatan. Menurut hemat saya, kondisi politik yang demikian adalah sebuah tanda matinya demokrasi dan lahirnya mobokrasi hingga nanti munculnya penguasa oligarki (yang dipimpin oleh sedikit orang) dan berakhir pada lahirnya penguasa tirani (yang dimpipin oleh satu orang).

Saya sebagai peresensi tidak bisa membenarkan mana yang ilmiah antara Aditjondro dengan pihak keluarga Cikeas, yang pasti kondisi bangsa Indonesia makin memburuk, baik dalam sektor politik, ekonomi, maupun dalam sektor sosial. Saya sepakat apa yang dikatakan oleh Syafii Ma’arif di awal tulisan ini, bahwa Indonesia membutuhkan pemberani seperti Aditjondro dalam mengungkapkan persilingkuhan penguasa dengan berbagai pemiliki kepentingan pragmatis.


Penulis : George Junus Aditjondro
Judul : Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century
Penerbit : Galangpress (Angkota Ikapi)
Tebal : 183
Peresensi : Salahudin, S.IP (Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UMM)